Menabung Karma

Saya percaya segala yang saya peroleh adalah titipan tuhan, nafas, keluarga, harta, ilmu, waktu, tenaga, semua. Penggalan kisah hidup yang berat dan tidak enak, near death experience yang orang terdekat dan terkasih saya alami, dan ketidakpastian akan apa yang akan terjadi di masa depan, memaksa saya untuk (istilah Bli Gede) “menabung karma”.

Sebisa mungkin, love all, serve all. help ever hurt never.

Ini juga kenapa saya dan Bli Gede 2 tahun lalu mendirikan komunitas untuk berbagi, Komunitas Sadar Sehat. 

Menjadi “bermanfaat”, bukan menjadi “dimanfaatkan”. bermanfaat menjurus pada banyak orang, beda dengan dimanfaatkan yang menjurus pada hanya satu orang/oknum. Menolong yang patut ditolong, mengasihi dengan tulus dan wajar, menjaga bergaulan yang baik (Sadhu). Jika tidak sanggup berbuat baik, paling tidak jangan berbuat buruk dengan menyakiti atau pula membalas perbuatan buruk orang lain.

Saya percaya tabungan karma baik membayar karma buruk di masa lalu. Tabungan karma baik juga akan melindungi kita dari karma buruk di masa depan. tidak ada usaha lain. Jadi, mari sama-sama menabung karma baik yang banyak ^.^

Berbagi tak pernah rugi.

Mulai sekarang saya berkomitmen untuk lebih sering berbagi di blog ini. Astungkara, paling tidak seminggu (atau dua atau tiga minggu tergantung sikon wkwkwk) sekali saya akan bangun jauh lebih pagi untuk ini (well, saya hanya menjadikannya lebih realistis). Saya yakin suatu saat pasti bermanfaat.

Fani

Iklan

Sudahkah Anda melakukan yang terbaik sebagai seorang ibu?

Percakapan Sri Krishna dengan Dewi Gandari

Pada saat perang Baratayuda sudah selesai Dewi Gandari degan perasaan sangat murka memanggil Sri Krisna,

“Hai Krisna apa benar kau ini Tuhan turun ke bumi ?

Kalau memang benar semestinya Kau bisa menciptakan kedamaian, bukan malah menciptakan perang yang menyebabkan aku kehilangan 100 (seratus) orang putraku.

Bisakah Kau bayangkan sedihnya seorang ibu yang kehilangan 100 org putranya?

Sedangkan yang kehilangan satu orang anak saja sedihnya seorang ibu sangatlah dalam.”

Dan dgn kemarahannya Dewi Gandari langsung mengutuk Sri Krisna agar negaranya juga akan tenggelam.

Sri Krisna menjawab :

“Benar Bibi, Aku adalah Tuhan turun ke bumi, Aku bisa menciptakan apapun, utk menghidupkan kembali semua putramu aku bisa, bahkan menciptakan semesta baru lagi Aku bisa.

Tapi terjadinya perang Baratayuda bukanlah kesalahanKu .

Itu semua adalah kesalahan Bibi, memang di seluruh jagat ini kau adalah seorang istri yg paling setia pada suami, suamimu buta, kau juga ikut membutakan dirimu dan kau  selalu dengan setia menemani suami, tapu kau tidak pernah menjadi seorang ibu yg baik.

Kau tidak pernah membimbing satupun dari 100 putramu.

Pernahkah kau menyuapinya, memperhatikan dan mencoba mengarahkan mereka ke jalan yg benar?

Kau biarkan anak-anak mu dibimbing oleh orang lain, itulah yg menyebabkan semua anakmu jauh dari rahmat Tuhan.

Memanjakan dan memenuhi segala keinginannya sesungguhnya bukanlah cara yang benar untuk mengasihi dan membimbing anak.

Dan dari kesalahan ibu itulah perang Baratayuda yg dahsyat itu terjadi.

Coba bayangkan saudaramu KUNTI, sejak kematian suaminya betapa ia telah mengasuh putra-putranya, ia selalu mendampingi, mengawasi dan mengendalikannya termasuk dua anak kembar dari Dewi Madri (istri kedua Pandu) meskipun dalam penderitaan yang panjang, tapi Dewi Kunti sangat disiplin mengajarkan anak-anaknya tentang (kepatuhan, persatuan dalam persaudaraan, berbagi kesedihan dan kegembiraan dalam kehidupan bersama).

Bahkan terhadap Draupadi sekalipun mereka tetap berbagi, dengan tidak ada perasaan apa2-apa satu sama yang lainnya. Dan berkat Kunti-lah maka Pandawa menjadi contoh teladan dari perilaku baik di seluruh jagat.”

Begitulah Sri Krisna memberi jawaban. Gandari pun menyadarinya, dan Gandari juga mendapat nama abadi karena PATIVRATA (kesetiaan pada suami).

Semoga bermanfaat  dalam mewujudkan generasi muda yang berkarater mulia…

🌻SELAMAT HARI IBU ( 22 Dec 2016 )

Excited ! Hamil Ajaib dan Tetep Aktif Banget (Part 1)

97128397
Happy pregnant woman.

Akhirnya, masuk usia kehamilan 38 minggu dan sekarang tinggal menghitung hari menuju tanggal tafsiran persalinan. Wah, perjalanan panjang yang gak kerasa udah aku lewati bareng cabang baby yang ada di dalam kandunganku.

Rasanya bersyukuuuuuurrrr banget, sejak awal kehamilanku hingga detik ini nggak ada keluhan yang berarti satupun bahkan debuyie woles aja diajak mamanya beraktivitas rempong mulai dari bersih-bersih rumah seperti biasa; nyapu, ngepel, nyiram, berkebun, bermain dengan dua anjing kacang kesayangan (ya meski gak tiap hari banget kan aku juga kerja); trus jalanin kegiatan sosial bareng suami dan temen-temen komunitas yang (yaaa katakanlah) lagi naik daun jadi lumayan padet juga kegiatan pelayanannya apalagi bukan cuma di  bidang kesehatan, wing nya sekarang juga merambah ke bidang pendidikan dan lingkungan hidup (karma punya suami yang hobinya seva), jadi karena baru merintis  ya agak rempong juga di awal karena kita juga bersinergi sama beberapa corporate untuk menjalankan project-project kita (more : http://www.sadarsehat.org); dan last but not least, helloooooo…. aku kemarin lagi internship dan dapat tugas di Unit Gawat Darurat !!!!! Jadwal kerja pagi, sore, sore, malam. Datang pagi pulang sore. Datang sore pulang malam, kadang larut malam, kadang juga tengah malam. Datang malam, syukur-syukur bisa bergantian shift lebih awal kalau nggak ya pulang menjelang siang hari hehehe, apalagi rumah sakit tempat aku bertugas adalah rumah sakit kabupaten terbesat di provinsiku, jadi kebayang kan jumlah dan jenis kasusnya…….. Untungnya, teamwork kita okeh, senior juga baik dan kami saling membantu jadi have fun lah…. Kembali ke cerita kehamilanku, jadi intinya, all iz well !!!

Sempat Galau 

Aku nggak pernah ngerasain yang namanya morning sickness, sama sekali. Bersyukurrrrr banget. Malah pas pertama tahu hamil cuma gara-gara telad haid doang. Itu aja. Tapi mood swing… hehe…. Ngaku deh.

Jadi pernah tuh ceritanya pas di awal kehamilan aku, aku sempet ngeluh macem-macem tentang kekhawatiran aku ke suamiku. Oh my god, kalau diinget-inget kasian juga suamiku diterpa perasaan cemas yang berlebih sampai suamiku harus nenangin aku by phone di jam kerja padahal suami lagi rempong-rempongnya juga di kantor, malah lagi di luar kota.

Kehamilan merupakan sebuah proses yang penuh dengan keajaiban dan seharusnya menjadi sebuah peristiwa dimana seorang wanita bersatu dengan tubuh dan bayinya, juga dengan dukungan yang ada di sekelilingnya. Di awal aku tahu bahwa aku hamil, aku langsung mencari info seputar kehamilan meski sebenernya sebagai dokter aku tahu teorinya tapi aku tetep aja kepo dan ingin mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjalani proses kehamilan dan menghadapi proses persalinan aku nanti.

Hati-hati, Gek, dengan informasi yang Gek dapat, Gek tahu mana yang patur dipercaya mana yang tidak,” pesan suami.

Emang sih sempet survei acakadul sama beberapa temen yang udah berpengalaman melahirkan baik pervaginam alias persalinan normal maupun sesar (entah sesar by request atau by accident). Dan jawabannya macem-macem.

Mulai deh suami tak uyak. 

Yakin saya bisa melahirkan tanpa komplikasi, tanpa rasa nyeri yang setengah mati seperti kata orang Bali megantung bok akatih, tanpa robekan perineum setelahnya, tanpa membuat Miss V saya nggak serapet seperti sebelum melahirkan, tanpa kehilangan gairah bercinta setelahnya, tanpa kita akan ngerasa kalau ml kita gak akan seenak dulu karena saya sudah pernah melahirkan pervaginam?” (maklum pasangan muda)

Setelah mati-matian ngasi pemahaman yang bener ke saya, keluar dah ide bisnisnya,

Kalau semua wanita jaman sekarang seperti Gek, bagus kita bikin retreat untuk ibu hamil barang 2-3 hari seperti yang lagi trend di luar negeri.” 

Boleh juga ide bisnisnya. (Nanti dah abis aku lahiran mau garap ini sama suami dan teman sejawat di Bali, Awignamastu. Ada yang berminat join?)

Kekuatan Cinta

Happy parents waiting for baby, pregnancyAku jadi mikir lagi. Sejak pacaran sampai sekarang suamiku tulussssss banget melayani aku, support aku, bangkitin aku, gandeng aku, bimbing aku, bahagiain aku, mencintai aku. Nah, sekarang pas aku udah hamil dan hamilin anaknya dia, ya pastilah dia bakal LEBIH melayani aku, lebih support aku, lebih mencintai aku. Karena aku lagi hamilin darah dagingnya, buah hati kami. Haddeh… gimana sih aku ini. Dan kehadiran buah hati (bahkan menurut agamaku, anak adalah leluhur yang turun ke bumi sebagai penerus keturunan kita akan menjadi berkah tersendiri karena kita diberi ladang karma untuk berbuat baik kepada dan melaluinya).

Jadi please deh, buat apa rempong. Buat apa galau. Apalagi kita tahu teorinya bahwa persepsi itu dibuat oleh pengetahuan. Pengetahuan yang benar berujung pada persepsi yang benar. Jadi kalau kita sudah amat sangat menikmati hari demi hari proses kehamilan kita, simply pada akhirnya kita juga akan merasa senang dan sangat excited di hari persalinan kita. Persalinan yang menakjubkan, menyambut kelahiran buah hati.

Puji Tuhan, selama 9 bulan mengandung aku merasa kehamilanku absoulutely full of joy and happiness. Hari demi hari aku mengalami perubahan-perubahan ajaib yang membuat aku merasa hebat dan bersyukur kepada Tuhan karena aku telah dilahirkan sebagai  wanita yang sempurna. Aku dipercaya Tuhan untuk mengandung dan membesarkan sesuatu yang hidup, yang mungil, yang lucu, di dalam rahimku. Sebuah harapan akan cinta kasih.

Keajaiban Tubuh Wanita

Sama seperti istilah Yesie Aprilia (2011) dalam bukunya Siapa Bilang Melahirkan itu Sakit?

“Proses persalinan merupakan sebuah proses yang proses yang indah dan luar biasa. Betapa tidak, proses tersebut menghantarkan manusia ke bumi. Merupakan peristiwa ajaib dimana 2 sel bertemu, tumbuh, dan berkembang yang menjadi janin dan bayi yang juga berarti manusia, dan mahluk hidup seutuhnya.”

Menurut teori, perubahan anatomi dan fisiologi pada perempuan hamil sebagian besar sudah terjadi segera setelah fertilisasi dan terus berlanjut selama kehamilan. kebanyakan perubahan ini merupakan respon terhadap janin. Satu hal yang menakjubkan adalah hampir semua perubahan ini AKAN KEMBALI SEPERTI KEADAAN SEBELUM HAMIL setelah proses persalinan dan menyusui selesai.

Ini aku sampai balik buka kitab merah Ilmu Kebidanan karya Sarwono Prawirohardjo (2008) buat ngeyakinin pemahamanku tentang proses kehamilanan yang sesungguhnya (jika dilihat dari ilmu kedokteran khususnya anatomi dan fisiologi). Percaya, ini bikin aku semakin bersyukur karena aku telah lahir dengan organ-organ tubuh yang hebat dan mereka bekerja sebagaimana mestinya dengan begitu sempurna mempersiapkan dirinya untuk membantuku melahirkan debuyie dengan smooth landing. 

Sambil me-review aku pingin ngucapin terimakasih yang sebanyak-banyaknya buat mereka, organ-organ tubuhku yang sempurna. Pertama sistem reproduksi.

  1. Uterus atau rahim. Aku bersyukur banget punya rahim yang senantiasa beradaptasi menerima, menampung, dan melindungi hasil konsepsi aku sama suamiku (yang berupa janin, ari-ari, dan air ketuban). Rahim punya kemampuan yang luar biasa untuk bertambah besar dengan cepat selama kehamilan dan pulih kembali seperti sedia kala beberapa minggu setelah persalinan. Kalau pas lagi nggak hamil, rahim kita kurang lebih beratnya 70 gram doang dan kapasitasnya cuma 10 ml atau kurang. Tapi pas hamil rahim bisa images.jpgberubah menjadi suatu organ yang mampu menampung janin, ari-ari, dan air ketuban yang rata-rata di usia akhir kehamilan volume totalnya bisa mencapai 5 liter bahkan lebih dengan berat rata-rata 11oo gram. Keren banget ya… Makasi Rahim, sudah jadi rumah pertama yang nyaman buat debuyie. Semoga kamu tetep kuat, sehat, dan tuntas menjalankan kewajibanmu sebagai Rahim.
  2. Serviks atau leher rahim. Aku juga bersyukur punya leher rahim yang kuat dan sehat. Leher rahim ini merupakan organ yang complicated banget yang mengalami perubahan yang luar biasa selama kehamilan dan persalinan. Dia bersifat seperti katup yang bertanggung jawab menjaga janin di dalam rahim sampai akhir kehamilan dan selama persalinan dia akan menipis dan melebar memberi jalan lahir buat debuyie. Yeayyy…. Kalau udah kebukak, adek bisa lahir smooth landing deh…
  3. Kulit, banyak yang bilang kalau hamil itu kulitnya kusam apalagi kalau mengandung anak cowok, beda sama mengandung anak cewek yang kita jadinya lebih suka dandan dsb. Ah, aku nggak. Debuyie cowok tapi aku biasa aja nggak ada perubahan berarti, tetap dandan seperlunya, tetap cerah ceria (inner Beauty kali ya wkwkwk). Malah ada yang nebak anakku cewek karena tampangku gak berantakan haha. Mitos aja. Tergantung emaknya aja, mood swing yang dialami bikin dia malas mandi apa nggak. Sedikit perubahan memang terjadi, seperti ada striave gravidarum (stretch mark) di perut bagian samping  (pada kulitku dikit aja) warna cokelat dan linea nigra garis lurus vertikal di bagian depan, tapi aku yakin abis melahirkan nanti bakal hilang. Syukur sih ya nggak muncul chloasma atau melasma gravidarum (kulit berubah warna jadi cekelat gelap kehitaman di daerah wajah dan leher. Menurut teori, perubahan ini wajar dan dihasilkan cari cadangan melanin pada daerah epidermal dan dermal (bagian kulit) belum diketahui pasti yang penyebab pastinya. Estrogen dan progesteron memang diketahui mempunyai peran dalam menalogenesis (produksi melanosit, pigmen warna) dan lonjakan hormon ini pada masa kehamilan diduga bisa menjadi faktor pendorongnya (bisa jadi, bisa jadi).
  4. Payudara, ini aku suka perubahannya karena aku kelihatan lebih seksi karena sejak bulan kedua kehamilanku ukurannya bertambah besar dan tambah padat. haha…Jadi mesti beli bra yang ukurannya lebih besar baik lingkar badan maupun cup nya. Hehe. Aku bersyukur sama hal ini karena ini pertanda nanti produksi ASI ku bakal cukup untuk menghidupi debuyie secara eksklusif di 6 bulan pertamanya. Astungkara ya. Awalnya emang cukup gede sih, 34C trus jadi 36C atau D tergantung model branya. Tapi menurut teori, ukuran payudara sebelum kehamilan tidak ada hubungannya sama banyaknya air susu yang akan dihasilkan. Jadi awalnya kecil ya jangan  berkecil hati dulu. Menurut teori, perubahan payudara bukan hanya pada ukurannya tapi juga pada bentuk dan warnanya. Puting payudara akan menjadi lebih besar, kehitaman, dan tegak. Setelah bulan pertama pertama suaru cairan berwarna kekuningan yang disebut kolostrum daat keluar (tapi pada aku, ini baru terjadi di bulan ke 8 sampai ke 9). Good job, punyaku sudah bekerja sebagaimana mestinya.

Nah selain perubahan di sistem reproduksi, tubuh wanita hamil juga akan mengalami perubahan di sistem-sistem tubuh lainnya seperti sistem metabolik (hormon dsb), sistem jantung dan pembuluh darah, perkemihan, pencernaan, juga tulang dan otot. Intinya setiap sel tubuh kita akan menyesuaikan diri sebaik-baiknya demi kelancaran proses kehamilan, persalinan, dan menyusui kelak. Nikmati aja…. Hebat rasanya.

Kalau aku pribadi, selama hamil bisa dibilang cukup sibuk dengan aktivitas di tempat kerja (please deh aku tugas di UGD pas hamil besar) tapi aku tetap menikmati waktu-waktu luang disela-sela nggak ada  pasien.

Beberapa pasien yang balik peduli sama aku malah bilang, “Aduh Bu Dokter, hamil besar tapi masih tetep jaga malam ya… Kasihan dik bayinya”.

“Ah nggak gpp, Bu, justru saya ajak dia belajar melakukan pelayanan sejak dalam kandungan, supaya jadi anak yang baik kelak.”

“Mudah-mudahan sehat terus ya Bu Dok sama baby”

Lah, harusnya aku yang ngucapin semoga lekas sembuh ke pasien malah aku yang didoain baik-baik. Hehehe gpp, doa gratis dan tulus. Ya aku berterimakasih dong.

Kita harus baca cukup buku/bacaan yang memberi pengertian yang benar tentang kehamilan dan persalinan. (Jangan denger omongan orang yang nggak ngerti atau yang trauma karena gak melakukan persiapan matang seperti kita). Ikuti seminar / talkshow tentang kehamilan dan persalinan (gak mesti dateng! Kalau bisa dateng bagus, kalau nggak nonton di YouTube juga bisa), Ikuti kelas retreat (ini baru umum di luar negeri), kelas ibu hamil, yoga hamil dengan rajin.

Mungkin beberapa orang inguh hamil, tapi kalau kita menyadari apa yang alami itu merupakan sebuah pengorbanan untuk buah hati kita yang sedang bertumbuh di dalam rahim kita, kita akan dapat menikmati setiap detik kehamilan kita. Jangan stress!

Tips Biar nggak Stress 

Ini aku ada beberapa tips yang aku ambil dari buku Mbak Yesie Aprilia (2011) yang dapat dilakukan untuk mengurangi stress selama kehamilan:

  1. Luangkan waktu untuk istirahat, hal yang paling simpel dan sangat mudah dilakukan dalam menghadapi stess adalah meluangkan waktu untuk istirahat atau tidur. Lupakan sejenak segala urusan untuk sementara, ini juga bisa membuat bumil merasa lebih santai dan fit kembali setelahnya.
  2. Lakukan antenatal yoga, yoga selama hamil sangat bagus dan berguna untuk mengurangi stress selama kehamilan. Efek yang dihasilkan sangat menguntungkan, baik bagi bumil maupun janin yang dikandung. (Soal yoga hamil, nanti kita bahas lagi ya di tulisan berikutnya)
  3. Ungkapkan perasaan Bunda, mengungkapkan perasaan-perasaan baik kepada keluarga, suami, petugas kesehatan, ataupun orang terdekat sangat berguna untuk memperbaiki kondisi psikologis bumil. Boleh juga nulis diari (seperti yang aku lakuin, aku nulis diari tentang kehamilanku juga nulis surat cinta buat janinku setiap saat aku merasakan “sesuatu” yang ada di hatiku. Hihi,aku mommy yang so sweet banget ya)
  4. Lakukan relaksasi, misalnya
    • pakai musik klasik (ada banyak aplikasinya di playstore, atau kalau versi aku dengerin hypnobirth meditation guidance yang juga ada banyak di youtube, pilih yang bagus!);
    • pergi SPA bareng pasangan ke salon langganan (kalau aku, karena selama hamil aku belajar untuk lebih berhemat, jadi aku lebih prefer minta suamiku buat massage-in aku di rumah hihi, lebih romantis juga), kalau Bunda mau ke salon-sok atuh, tapi jangan lupa bilang ke terapisnya kalau kita lagi hamil ya;
    • sisakan waktu 10 menit setiap hari utnuk melakukan sesuatu yang benar-benar ingin Bunda lakukan, dan
    • hindari situasi dan orang-orang yang membuat Bunda merasa stress (penting ini!!!! di tempat kerja misalnya!!! Tetap profesional kan gak mesti intouch terus sama orang yang bikin Bunda keuzel).
  5. Latihan pernafasan dan visualisasi, ini sangat bermanfaat bagi kesehatan Bunda dan janin karena dengan berlatih pernafasan maka kebutuhan oksigen menjadi lebih terpenuhi
    • Ambil waktu sekitar 10 menit untuk istirahat dan merebahkan diri dengan posisi yang paling nyaman
    • tarik nafas yang panjang dan dalam, fokus pada nafas yang masuk dan keluar sambil terus membayangkan bahwa setiap hembusan nafas membuat tubuh lebih relaks dan pikiran menjadi lebih santai dan relaks.
    • bayangkan bunda sedang berada di sebuah tempa yang paling nyaman (misalnya di pantai yang indah, taman bunga, atau tempat wisata yang paling Bunda sukai).
  6. Complementary Therapy, seperti aroma terapi, refleksiologi, massage, dan shiatsu. Tapi penting konsul sama tenaga kesehatan dulu sebelumyoga-hamil ngelakuinnya.
  7. Olahraga, ini bisa bisa menstimulasi tubuh untuk merasa lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa berolahraga selama hamil bukan saja membuat badan sehat tapi juga mebuat jiwa sehat. Yang penting cukup minum supaya nggak dehidrasi.
  8. Pergi berenang, ini sangat bermanfaat karena punya efek relaksasi yang membuat bumil jadi lebih nyaman dan tenang.
  9. Mempersiapkan persalinan dengan baik, baik secara mental, fisik, maupun finansial, dapat membantu mengurangi stress pada masa kehamilan.

Pesan dr. Hariyasa Sanjaya, Sp.OG

Saat aku galau aku sempat berkirim email kepada seorang dokter kandungan yang juga merupakan dosenku saat dibangku kuliah dulu. Ini aku share apa kata beliau untuk aku. Btw Terimakasih Dokter…

Kehamilan, persalinan, breastfeeding dan parenting adalah ibadah yang paling hakiki bagi setiap perempuan. Dan kitab sucinya satu yaitu rasa syukur dan ikhlas. Sejak lama saya menggalang upaya untuk meningkatkan keberhasilan persalinan normal di tengah derasnya trend seksio sesarea.

Ada proses finishing step yang terjadi saat persalinan normal yaitu perjalanan janin melalui jalan lahir. Proses ini adalah proses kapasiatasi imun bagi janin dan juga ibunya. Proses ini yang sesungguhnya menentukan seorang perempuan ber-metamorfosis menjadi seorang ibu. Proses ini telah dipahami keliru saat ini sejak orang menakuti proses persalinan dan muncul nya intervensi medis yang begitu high profile mengusir “ketakutan” itu dengan  cara instan yang justru menimbulkan kerusakan yang sistematis.

Saya mendukung setiap upaya untuk meningkatkan keberhasilan persalinan normal. Dan memandirikan setiap ibu hamil adalah langkah awal yg paling utama.

“Ketika Tuhan memberi kehamilan maka Ia telah menyiapkan jalan lahir dan semua bekal kehidupan nya. Maka tak ada sesuatu apapun yang layak untuk ditakuti. Karena Tuhan akan menjaga setiap pejuangnya yang telah rela menjalankan proses penciptaan yang paling hakiki. Ini lah ibadah itu”.

Pesan Ibu Robin 

Saat aku survei beberapa klinik dan rumah sakit untuk rencana tempat persalinan ku, aku memasukkan Klinik Bumi Sehat milik Yayasan Bumi Sehat Ibu Robin Lim di Ubud ke dalam daftar tempat yang kuinginkan. Disana aku mengetahui,

Kami di Bumi Sehat mendukung sifat keibuan yang alami karena hal ini memberi kekuatan pada wanita dan membantu mereka menyadari nilai mereka sebagai manusia, sebagai Ibu, dan bagian penting dalam dalam masyarakat.

Memilih jalur alami dalam masa hamil membantu ibu menghargai kuasa Tuhan, Ibu Pertiwi, dan Cinta yang sedang bekerja di dalam tubuhnya. Kehamilan, pertumbuhan bayi dalam kandungan, kelahiran, pasca kelahiran, dan menyusui adalah siklus sakral dari reproduksi. berkah dan kekuatan kehidupan ini bekerja lebih baik jika kita selaras dengan alam.

Kisah Dewi Lestari Melahirkan Atisha

Saat aku searching di YouTube tentang Gentle Birth Hypnobirth dan Waterbirth aku menemukan kesaksian Dewi Lestari dan Reza Gunawan dalam sebuah talkshow di sebuah mall, ini juga membuatku semakin berpikir positif tentang kehamilanku

Dewi Lestari (Dee), seorang penulis novel bestseller, penyanyi, dan penulis lagu, berbagi kisah luar biasa tentang persalinan anak keduanya bersama Reza Gunawan, suaminya yang berprofesi sebagai praktisi penyembuhan holistik. Dari pernikahannya yang pertama, Dee melahirkan putera sulungnya, Keenan Avalokita Kirana (6 thn), melalui operasi Caesar di sebuah rumah sakit di Bandung. Saat hamil puteri keduanya, Atisha Prajna Tiara (9 bulan), Dee dan Reza mendambakan sebuah persalinan alami (normal) dengan metode Gentle BirthMereka melakukan persiapan yang detil untuk itu. Dee akhirnya menjalani persalinan alami dengan metode Gentle Birth di dalam air (waterbirth) di rumahnya sendiri dengan fine-fine aja. Tidak ada robekan perineum. Bebas nyeri yang menyakitkan. Semua terjadi begitu saja, bahkan saat melahirkan Atisha, tidak ada petugas kesehatan yang mendampingi karena belum datang, yang ada hanya Dee dan Reza. Pada akhirnya mereka yakin bahwa kuncinya adalah PIKIRAN.

Percaya Diri dan Percaya kepada Debuyie 

Akhirnya setelah cukup belajar aku merasa cukup percaya diri dan juga percaya sama cabang baby aku bahwa kami akan saling mendukung dan saling mengasihi. Persalinan aku yang tinggal hitungan hari akan berjalan dengan aman, nyaman, dan menyenangkan. Aku akan melahirkan seorang bayi laki-laki mungil yang ganteng, baik, sehat, dengan penuh syukur dan rasa bahagia. Kami saling mencintai dan oleh karenanya persalinanku nanti pasti aman, nyaman, dan menyenangkan.

Aku bersyukur saat ini berada di state ini. Aku begitu menikmati proses kehamilan ku. Aku juga bersyukur sejauh ini aku dan debuyie tetap sehat. Berpikir positif. Positif hamil. Hamil positif.

Terimakasih, Semesta.

All iz well.


Referensi 

1. Sarwono, P. 2008. lmu Kebidanan Edisi IV. Jakarta. Bina Pustaka.

2. Aprillia, Y. 2011. Siapa Bilang Melahirkan itu Sakit? Yogyakarta. Penerbit Andi.

3. Robin, L. 2014. Ibu Alami-Persembahan dari Bumi Sehat. Bali. Half Angel Press

4. Reza Gunawan & Dewi Lestari. Talkshow Gentle Birth – Persalinan Alami Ramah Jiwa, Minim Trauma, dan Penuh Cinta. Published on 19 Mar 2012 on https://www.youtube.com/watch?v=qoba0tDOS1M

5. Kisah Kelahiran: Atisha Prajna Tiara available on http://gentlebirthindonesia.com/hello-world/

Resensi Buku Hypnobirthing

wp-1476773825677.jpg

Judul : Cara Mudah Melahirkan dengan Hypnobirthing

Penulis Buku : Sitiatava Rizema Putra

Penerbit : Laksana .Tahun : 2016

Tebal buku : 200 halaman

Buku ini tidak hanya mengupas seputar seluk beluk persalinan, tetapi juga menawarkan sebuah metode persalinan luar biasa yang disebut hypnobirthing, salah satu metode alternatif untuk melahirkan tanpa rasa sakit, selain terdapat sejumlah alternatif lainnya mulai dari waterbirth, bius epidural, dsb. yang juga sedikit disinggung dalam buku ini. Sesungguhnya konsep hypnobirthing tidaklah baru, melainkan merupakan filosopi persalinan yang sudah ada sejak ribuan rahun yang lalu di berbagai perabadan kuno, namun tenggelam seiring waktu.

Dalam buku ini penulis memberi langkah panduan untuk latihan relaksasi, termasuk tips-tips yang bisa diikuti oleh calon bunda agar siap menjalani persalinan yang bebas sakit dengan metode hypnobirthing, seperti; teknik pernafasan menjelang persalinan, endorphin massage, teknik pijat perineum, dan latihan kegel. Penulis juga melengkapi bagian akhir bukunya dengan tips pasca persalinan seperti bagaimana membersihkan bayi yang baru lahir, memandikan, dan merawat tubuh bayi.

Keunggulan

Dengan memperkenalkan kembali metode hypnobirthing ke masyarakat luas, buku ini menjadi sangat menarik untuk dibaca oleh masyarakat awam sehingga dapat menjadi salah satu buku acuan untuk dipelajari oleh calon bunda yang masih menyimpan banyak kekhawatiran mengenai kehamilan mereka, ataupun para bunda yang sebelumnya sudah pernah melahirkan namun memiliki trauma paska persalinan. Sangat pantas menginvestasikan uang senilai Rp.50.000 untuk sebuah buku baru yang telah meringkas sekian banyak literatur kebidanan maupun kedokteran ini.

Kekurangan

Sayang sekali buku ini tidak dilengkapi dengan rekaman audio untuk relaksasi. Tampaknya akan menjadi lebih sempurna jika dalam panduan latihan relaksasi yang telah dipaparkan dalam buku ini, penulis dapat menyampaikan secara gamblang naskah hypnobirthing yang dapat direkam sendiri oleh calon bunda untuk diperdengarkan setiap hari atau dapat dibacakan langsung oleh pasangan Anda (suami), lengkap dengan rekomendasi beberapa opsi backsound yang cocok untuk relaksasi. Di samping itu, buku ini juga kurang menyajikan testimoni dari orang-orang yang sudah pernah merasakan manfaat hypnobirthing, kurang menerangkan dengan cukup jelas apa yang disebut dengan aura dan cakra. Dan akan lebih bagus lagi apabila dalam menyajikan beberapa tips hypnobirthing seperti endorphin massage dan teknik pijat perineum, juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar karena kedua hal tersebut mungkin masih asing bagi sebagian besar telinga pembaca.

Meski bagaimanapun, bagi Anda yang tertarik mempelajari hypnobirthing, buku ini tetap saya rekomendasikan, bisa dilahap dalam sehari.

Selamat membaca!

Penyempitan Makna Kesehatan

Tanpa banyak disadari kita hidup dalam masyarakat yang mempersempit arti kesehatan hanya dari satu dimensi yaitu fisik semata, sehingga banyak orang yang mengupayakan kesehatan dengan sibuk berolah raga, makan makanan bergizi yang berdampak pada terjaminnya kesehatan fisik dengan penampilan yang menarik, bertubuh indah walaupun hidup dalam kesedihan dan jauh dari kedamaian. Ini sebenarnya sama sekali tidak mencerminkan arti kesehatan yang sebenarnya.

Hakekat dari kesehatan adalah kondisi harmonis yang holistik, keselarasan yang menyeluruh dari berbagai dimensi diri manusia. Harmoni dalam hal ini bukan berarti tanpa konflik atau ketegangan, akan tetapi sebuah kondisi dimana konflik dan ketegangan dapat kita tata sedemikian rupa hingga menjadi sebuah dorongan untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya. Ketidakselarasan dimensi dalam diri manusia ini mengakibatkan ganguan psikomatik yaitu gangguan jiwa yang dimanifestasikan pada gangguan susunan saraf vegetatif yang sebagian besar disebabkan oleh permusuhan, depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi. Gangguan ini menggambarkan interaksi yang erat antara jiwa (psiko) dan badan (soma).

Dimensi-dimensi dari Sehat

Seabad yang lalu, istilah sehat hanya dipakai untuk memaknai “tiadanya suatu penyakit ataupun luka”. Lalu pada tahun 1948, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan definisi baru terhadap istilah sehat, yakni “keadaan bugar secara fisik, mental, dan sosial yang lengkap, dan bukan hanya tiadanya penyakit atau pun luka”. Pandangan baru yang holistik ini mengakui bahwa pada orang yang sehat, berbagai dimensi kehidupan berjalan dengan harmonis. Adapun beberapa dimensi yang dimaksud antara lain:

  1. Dimensi Fisik

Kesehatan fisik berfokus pada tubuh: seberapa baik tubuh itu berfungsi dan seberapa baik kita merawatnya. Kesehatan fisik yang optimal meliputi aktif secara fisik, makan bergizi, dan tidur yang cukup, membuat putusan yang bijaksana mengenai hal yang menyangkut seks, minuman keras, dan obat-obatan terlarang, dan mengambil langkah-langkah untuk menghindari luka/kecelakaan dan penyakit menular. Namun kesehatan fisik hanyalah bagian kecil dari kesehatan manusia. Ia memerlukan dimensi lainnya.

  1. Dimensi Intelektual

Kesehatan intelektual ditandai dengan kemauan untuk mengambil tantangan intelektual baru, suatu keterbukaan terhadap ide-ide dan keterampilan-keterampilan baru, suatu kemampuan untuk berpikir secara kritis, dan suatu rasa humor dan ingin tahu. Orang-orang yang memiliki kesehatan intelektual tingkat tinggi tidak hanya mengenali masalah secara cepat, melainkan juga mencari dan menciptakan solusi. Sifat-sifat ini penting tidak hanya selama masa pendidikan formal kita, tetapi juga sepanjang hayat.

  1. Dimensi Psikologis

Kesehatan psikologis merupakan dimensi yang luas, meliputi penerimaan-diri, dan kemampuan untuk memberi tanggapan yang tepat kepada lingkungan kita. Dimensi ini juga mencakup kemampuan untuk mempertahankan hubungan yang sehat dengan orang lain dan untuk mengejar tujuan-tujuan yang bermakna. Akhirnya, orang-orang yang sehat-psikologis itu merasa bahwa mereka senantiasa tumbuh dan berkembang sebagai individu.

  1. Dimensi Spiritual

Hal yang erat hubungannya dengan dimensi kesehatan psikologis ialah kesehatan spiritual yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kita anut dan cara-cara pengungkapan kita, contohnya dalam kegiatan kemanusiaan, ibadah keagamaan, atau pun upaya untuk menjaga kelestarian alam. Kesehatan spiritual berkontribusi terhadap kemampunan seseorang untuk memaknai hidup dan ia dapat menjadi pegangan saat kita menghadapi tantangan-tantangan.

  1. Dimensi Sosial

Manusia perlu berdamai dengan musuh dan saingannya agar ia bisa memperoleh rasa damai. Kita boleh bersaing dan bahkan berkonflik dengan orang lain. Namun ini harus diatur sehingga semua konflik dan ketegangan berujung pada perubahan yang baik bagi semua pihak, dan bukan justru menghancurkan semuanya. Kesehatan di bidang sosial ini amat erat terkait dengan kesehatan mental. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang damai, dan jiwa yang damai berarti mampu berdamai dengan orang lain di sekitarnya.

  1. Dimensi Historis.

Manusia perlu berdamai dengan masa lalunya. Tentu, kita semua pernah mengalami hal-hal yang menyedihkan dan menyakitkan di masa lalu. Semua itu bukan untuk dilupakan, tetapi untuk diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tak selalu mudah. Dari penerimaan lahir rasa damai, dan ini merupakan dimensi yang amat penting dari kesehatan. Masa lalu juga berarti orang-orang yang kita sayangi yang telah meninggal. Kita perlu mengingat dan berdamai dengan mereka di dalam hati kita, supaya kita bisa menemukan kedamaian.

Menjaga Jarak

Pertanyaan yang lebih sulit adalah, bagaimana kita bisa mencapai kondisi harmonis diantara keenam dimensi kesehatan tersebut? Dalam bukunya yang berjudul Awareness, Anthony de Mello SJ, mencoba menggali kebijaksanaan dari berbagai peradaban di dunia, di dalam bukunya ia menjelaskan

Langkah pertama adalah dengan menyadari perasaan-perasaan di dalam diri kita. Ketika kita sakit atau mengalami musibah, kita tentu sedih. Ketika kita mendapat hadiah atau berkat lainnya, kita tentu senang. Kita perlu untuk menyadari semua perasaan-perasaan yang muncul ini di dalam hati kita.

Kita tidak boleh menolak perasaan ini. Kita harus menerima dan merasakannya. Namun, disini letak langkah pentingnya, kita tidak boleh menyamakan diri kita seutuhnya dengan perasaan itu. Kita harus melihat perasaan itu sebagai sesuatu yang berbeda dari diri kita. Kita harus mengamati perasaan itu sebagai suatu gerakan emosi yang tidak sama dengan jati diri kita yang asli.

Misalnya, kita merasa sedih. Kita tidak boleh menyamakan seluruh jati diri kita dengan perasaan sedih itu. Sebaliknya, kita perlu merasakan sekaligus menjaga jarak dari rasa sedih itu. Kita perlu mengamati rasa sedih di dalam batin kita dengan jarak. Jarak ini nantinya akan menghasilkan kesadaran,bahwa kesedihan itu tidaklah asli, melainkan sesuatu yang dengan mudah datang dan pergi, seperti angin saja, sehingga ia bukanlah sesuatu yang penting.

Kata kunci disini adalah mengamati. Kita perlu mengamati gerak emosi di dalam batin kita, selayaknya orang ketiga. Jadi, ketika kita sedih, kita tidak boleh bilang, bahwa saya sedih, melainkan ada sesuatu yang sedih. Kita amati, maka akan muncul jarak, dan kesedihan, ataupun emosi lainnya, akan hancur dengan seketika. Kita pun akan menemukan kedamaian yang sesungguhnya.

Berhenti Melawan

Di zaman yang amat mengagungkan optimisme, kekayaan, keterkenalan dan kesuksesan, ajaran-ajaran yang berisi kepolosan, ketulusan dan keikhlasan memang pelan perlahan melenyap. Sebagaimana sudah diajarkan sejarah berumur tua, amat sedikit manusia yang diberkahi menjadi kaya, terkemuka, berkuasa. Bahkan yang kaya, terkemuka dan berkuasa pun di suatu waktu harus berpisah dengan kekayaan dan kekuasaannya.

Untuk itu, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri tidak saja bersahabat dengan kesuksesan dan pujian, tapi juga bersahabat dengan kegagalan dan cacian. Maraknya bunuh diri sebagai contoh, sebagian besar disebabkan karena manusia gagal bersahabat, setidaknya gagal melihat sisi-sisi indah dari kegagalan dan cacian orang. Dalam kehidupan para bijaksana, kegagalan dan cacian adalah pintu yang teramat mulia untuk memasuki kehidupan suci bernama tahu diri, kemudian berlatih untuk senantiasa rendah hati. Sang Rama teramat rendah hati sehingga demikian ikhlasnya mempersilahkan adik tirinya duduk di kursi kerajaan, Sang Buddha tiap pagi pindapata (bahasa orang awam; mengemis) untuk meminta makanan ke sana ke mari. Santo Fransiscus dari Asisi meninggalkan kekayaan orang tuanya, kemudian bertapa berbajukan kesederhanaan. Dan lihat warisan kemuliaan yang beliau sisakan buat kita. Tubuh fisik mereka semua sudah wafat lama sekali, tapi cahaya pelajarannya tidak pernah padam sampai saat ini.

Membuat anak muda khususnya rendah hati di zaman ini tentu saja amat sulit. Lebih-lebih membuat orang dewasa yang sedang lapar kekuasaan menjadi rendah hati. Ia sama sulitnya dengan membuat matahari terbit di Barat. Tapi, sebagaimana diajarkan kehidupan mantan presiden Pak Harto, Bill Clinton, sampai Mahathir Muhammad, semua kekuasaan ada akhirnya. Kemudian menyisakan pilihan yang tidak bisa ditawar yakni memeluk ikhlas putaran kehidupan berikutnya agar selalu rendah hati.

Mungkin itu sebabnya Shinzen Young dalam The Science of Enlightenment, menemukan rumus sederhana yakni penderitaan adalah rasa sakit dikalikan dengan perlawanan. Persoalan waktu, semua akan mengalami rasa sakit berupa tubuh yang menua, dikunjungi penyakit, berpisah dengan orang-orang yang kita cintai. Cuman, rasa sakit ini akan menjadi penderitaan bila seseorang melawan. Bila angka perlawanannya nol, maka penderitaan juga nol. Sehingga bisa dimengerti kalau para bijaksana tekun mengajari generasi berikutnya untuk senantiasa tulus, polos, ikhlas. Karena ketulusan, kepolosan, keikhlasan membuat angka perlawanan menjadi nol, sehingga penderitaan pun menjadi nol.

Tulisan merupakan kontribusi untuk Gema Perdamaian 2011

Keberagaman Dalam Hindu

Sepanjang sejarah Hindu,  para tokoh-tokoh hindu berpikir dan bertindak secara terus menerus untuk mencari bentuk-bentuk baru dalam usaha mengembangkan cita-cita dengan metodenya yang selalu menyesuaikannya dengan keadaan zaman. Oleh sebab itulah Hindu tidak bisa diartikan sebagai satu arus pendapat saja karena di dalamnya memberikan ruang kebebasan kepada setiap orang yang mencita-citakan menuju kepada realisasi Tuhan dengan jalannya yang berlainan, dan dengan mempergunakan rujukan susastera yang berbeda untuk setiap kelompok. Hal ini mencerminkan Hindu mengakui kesatuan total yang mendalam serta luas yang memungkinkan keberagaman seperti banyaknya cabang dan daun di pohon beringin (bayan) yang besar.

Hindu dibangun diatas keberagaman, hal ini karena Hindu berupaya untuk melestarikan semua praktek spiritual utama yang berkembang di India selama ribuan tahun (Siwais, Waisnawa, Sakti dan Smartas) dan setiap tradisi yang membantu manusia mengangkat jiwa manusia kedalam Realisasi Tuhan diperlakukan sebagai sesuatu yang berharga untuk ditaati serta dalam pelaksanaanya sangat menekankan tradisi lokal di daerah masing-masing.

Tujuan dari agama Hindu menurut Weda adalah kebahagiaan yang didalamnya terkandung makna kesejahteraan, tekertiban, keselamatan dan kebebasan, secara khusus tujuan hidup didalam Hindu dirumuskan sebagai Catur Purusaartha yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Untuk mencapai tujuan ini Weda menekankan upaya-upaya ritual, Upanisad menekankan pada pencapaian kebebasan individu, sementara Bhagawad Gita menekankan ketertiban dan kesejahteraan masyarakat. Yang kesemuanya dilakukan dengan jalan yadnya yaitu proses kreatif universal alam semesta yang menyeluruh dan saling berhubungan serta tidak bisa berdiri sendiri. Peran manusia dalam pelaksanaan yadnya adalah sangat penting, apabila tindakan kita selaras dengan kegiatan alam, hal ini bisa dikatakan sebagai yadnya akan tetapi jika kita mengintervensi secara berlawanan dengan kegiatan alam (berlawanan dengan hukum alam /Rta), maka hal ini akan mengakibatkan reaksi yang setimpal.

Di era global ini kita tidak dapat lagi mengklaim bahwa satu agama adalah satu-satunya kebenaran bagi seluruh manusia, seperti kita juga tidak dapat mengklaim bahwa satu bahasa, budaya dan cara hidup adalah yang terbaik untuk semua. Setiap peradaban besar adalah produk dari keragaman yang menyatukan pandangan dan praktek yang berbeda dalam ilmu pengetahuan, agama, seni, dan budaya serta merangkul kelompok ras serta etnis sehingga dapat memberikan ruang untuk jiwa manusia yang selalu berusaha untuk tumbuh dan mengekspresikan dirinya dalam berbagai cara.

Di dalam filosofi Hindu Wedanta mengandung ajaran tentang keadilan sosial. Advaita Wedanta, yang bersifat monisme, menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah Tuhan. Sesuai dengan filosofi ini Tuhan adalah lautan, sedangkan jiwa individu adalah ombak dari lautan yang memiliki “identitas sementara”nya sendiri, tapi tetap sebagai bagian dari lautan. Sesuai dengan filosofi lainnya, Dwaita, atau dualisme, Tuhan dan manusia adalah terpisah; manusia seperti kendi tanah yang diisi air yang diambil dari lautan yang sama adalah Tuhan. Esensi dari hidup, prinsipnya atau kesadaran dari tiap orang adalah sama. Kedua konsep ini akan menghasilkan kesadaran bersama yang membuat kita empati terhadap penyakit dan penderitaan orang lain. Karena kita tidak saja identik, tetapi sama dengan orang lain. Oleh karena itu kita seharusnya tidak segan untuk menolong orang lain.

Pluralisme Agama

Anggapan bahwa semua agama adalah sama, bahwa pada akhirnya sama dan semua sama baiknya, yang mungkin didorong oleh upaya tulus mewujudkan kerukunan beragama telah menyebabkan timbulnya banyak distorsi yang bertentangan dengan pendekatan pluralistik dari tradisi Hindu.

Pluralisme dalam bidang apapun tidak berarti bahwa semua alternatif pilihan adalah sama. Tetapi bahwa kita memiliki kebebasan dalam mengambil pilihan yang berbeda yang mungkin tidak semua akan baik, seperti pluralisme dalam makanan, kita dapat memilih berbagai jenis makanan, ini tidak berarti semua makanan adalah sama baik dalam hal rasa maupun nilai gizinya. Dengan menyamakan semuanya sejatinya telah memangkas keberagaman, menghancurkan kebebasan dan menghambat proses pembelajaran serta pertumbuhan. Semua agama mengajarkan kita untuk menjadi baik, namun terkadang apa yang dikatakan baik dalam satu agama mungkin tidak baik dalam agama lain.

Apa yang diajarkan Hinduisme adalah pluralisme agama yang tidak perlu membuat semua agama sama akan tetapi bagaimana toleran terhadap perbedaan agama, ini memungkinkan membuat perbedaan menjadi menonjol dan tidak ditutupi oleh kerudung kesatuan, pluralisme disini berarti kebebasan mengejar kehidupan rohani yang mengamanatkan memiliki pandangan yang berbeda atau bahkan bertentangan tidak menjadi permasalahan. Ini berarti bahwa kita tidak boleh melarang orang untuk mengubah keyakinan agama mereka, juga tidak tidak seharusnya kita berusaha untuk memaksakan keyakinan agama kepada orang-orang dengan kekerasan atau propaganda, serta harus memberikan kebebasan untuk menemukan kebenaran tanpa gangguan.

Pluralisme Hindu tidak menyangkal kesatuan kebenaran atau fakta hukum alam tetapi menganggapnya sebagai masalah penemuan diri dan pengetahuan diri, sehingga kebenaran bukanlah menjadi keyakinan kolektif, doktrin, label ataupun fantasi belaka. Untuk sampai pada kebenaran dalam bidang apapun diperlukan kebebasan. Kebebasan menciptakan keragaman yang memungkinkan untuk pertumbuhan kreatif. Manusia secara alami memiliki berbagai kecenderungan berbeda yang dipengaruhi oleh lingkungan serta bawaan lahir mereka. Kita harus belajar di sepanjang sejarah begitu banyak pertumpahan darah sebagai akibat pemaksaan dari salah satu cara pemikiran pada semua orang. Hal ini bukanlah wujud dari spiritualitas dan bertentangan dengan alam serta kehidupan yang penuh dengan segala macam variasi.

Dalam agama Hindu tujuan akhir dari kehidupan adalah kebebasan atau pembebasan (Moksha). Ini bukan kebebasan luar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi kebebasan batin untuk melampaui segala keterbatasan eksternal. Kebebasan ini adalah kesatuan di balik keragaman. Oleh karena itu pluralisme Hindu bukanlah penolakan kesatuan tetapi penegasan kesatuan nyata yang melampaui perbedaan luar.

Dimuat di Majalah Media Hindu,

Edisi Agustus 2015

Bijak Menggunakan Media Sosial

Hasrat untuk menceritakan pikiran-pikiran, pandangan dan pengalaman adalah salah satu alasan media sosial dan jaringan sosial online menjadi begitu popular.

Dahulu sebelum ada media sosial (path, twitter, facebook, instagram dll) ungkapan perasaan dan pikiran yang kini sering disebut curhat, ditulis dibuku harian (diary) atau disampaikan kepada sahabat dan orang-orang terdekat yang dapat dipercaya mampu menyimpan rahasia. Biasanya para gadis yang kini disebut ABG, menyimpan buku harian itu di bawah bantal atau tempat rahasia agar tersembunyi, sehingga tidak dapat dibaca oleh orang lain.

Zaman telah berubah drastis, buku harian sudah jarang dihiasi kata-kata sejak ada media sosial, bukan hanya ABG tapi semua usia dan golongan suka curhat. Bisa jadi karena praktis, hanya butuh smart phone atau tablet, komputer dan jari tangan. Sanyangnya keterampilan menarikan jari tangan diatas pad ini kurang diimbangi argumentasi kuat dan data yang dipercaya sehingga sering menimbulkan polemik. Terkesan asal tulis dan tragisnya media sosial dijadikan sarana menumpahkan kebencian kepada orang atau golongan lain.

Beragam pesan di media sosial dari yang paling pribadi dan tidak perlu diketahui umum sampai pendapat pribadi mengenai persoalan berat yang tengah terjadi di masyarakat. Padahal banyak dari kita yang sejak kecil mengalami kesulitan membuat tulisan karena tidak suka menulis namun pengaruh gadget membuat hidup menjadi praktis dan memicu orang untuk keranjingan menulis.

Begitu sering seseorang menganti-ganti status dalam sehari di media sosial. Sedang berada di tempat makan saja disebarluaskan lengkap beserta fotonya. Lagi kesal sama bos ataupun orang dekat segera update status sehingga teman yang di luar negeripun dalam hitungan detik dapat mengetahuinya. Gembira karena kelahiran anak, mau berlibur keluar negeri, ataupun sedang cuci baju karena pembantu sedang pulang kampung, patah hati ditinggal pacar adalah informasi yang sangat sering di share agar orang-orang maklum. Bahkan hal yang sangat pribadi sering kali di posting sehingga orang lain tau. Agaknya tidak ada lagi yang disebut privacy, selain itu kata-kata kasar acapkali mewarnai postingan di media sosial.

Yang tidak suka menampilkan diri alias kaum introvert menyebut para penggemar sosial media sebagai kaum narsis. Apalagi dengan kecanggihan smart phone dengan dual camera sehingga dapat memotret diri sendiri tanpa bantuan orang lain yang dikenal dengan selfie yang semakin asik dengan bantuan tongsis (tongkat narsis), ataupun trend “alay” yang menurut Koentjara Ningrat adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati, kayak blogger dan kaskuser).

Sebaliknya media sosial oleh orang tertentu dijadikan saluran untuk hal-hal yang membangun sesuatu yang positif seperti kata-kata bijak, kalimat inspiratif, renungan, informasi yang perlu diketahui umum (jalan rusak, kemacetan, kecelakaan, pohon tumbang).

Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang membuat kita suka berkicau di media sosial? Menurut buku Contagious: Why Things Catch On; “Self Sharing terus kita lakukan sepanjang hidup, kita bercerita kepada teman-teman tentang baju-baju baru yang kita beli dan memamerkan kepada anggota keluarga, hasrat untuk menceritakan pikiran-pikiran, pandangan-pandangan dan pengalaman-pengalaman ini adalah salah satu alasan media sosial dan jaringan sosial online menjadi begitu popular.”

Dibuku yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Contagious : Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Poluler, 2014, Berger menulis para peneliti menemukan lebih dari 40% yang mereka perbincangkan di media sosial adalah pengalaman pribadi atau hubungan pribadi mereka. Begitu pula sekitar setengah dari kicauan di twitter berfokus pada “saya” dan mengoceh tentang yang sekarang sedang mereka lakukan atau sesuatu yang terjadi kepada mereka.

Mengapa orang berbicara begitu banyak tentang sikap-sikap dan pengalaman mereka sendiri alasannya kata Berger, “Lebih dari sekedar kesombongan; kita sungguh melakukannya karena menemukan bahwa itu menyenangkan.”

Ungkapan kekesalan dan makian adalah manusiawi asalkan pemilihan kata-kata jangan sampai menyerempet hal-hal yang bisa dianggap penghinaan, pencemaran nama baik apalagi fitnah. Kalau perasaan sedang berbunga-bunga tentu yang akan muncul adalah kalimat indah di media sosial namun bila hati sedang marah dan pikiran kacau berhentilah sejenak dan tunda menullis di media sosial.

Populasi pengguna media sosial di Indonesia sangat besar, sehingga apapun yang ramai di kicaukan akan menjadi Trending Topic di media sosial seperti #SaveHajiLulung, #saveahok, #saveKPK yang menjadi ajang saling dukung ataupun bully seseorang atau institusi di media sosial, harusnya kita lebih bijak untuk masalah seperti ini karena trading topic Indonesia akan sangat gampang menjadi trending topic dunia mengingat pengguna media sosial kita yang sangat banyak, hal ini akan sangat berpengaruh kepada citra bangsa kita, dan sebagai netizen haruslah tetap mempertahankan karakter bangsa kita sebagai bangsa yang santun dan bermartabat.

Dimuat di Surat Kabar Pos Bali

Edisi Selasa, 10 Maret 2015

Pers Sebagai Fundamental Demokrasi

Dalam UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers, pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik, maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

William J Stanton, dari Universitas Colorado AS, dalam bukunya Fundamentals of Marketing, mengatakan “Me-manage masa depan ialah dengan me-manage informasi“. Untuk mengelola informasi, konsep negara berparadigma otoriter seperti Indonesia di era Orde Baru berbeda dengan konsep demokrasi yang berkedaulatan rakyat. Bermula dari kejatuhan rezim orde baru tahun 1998, kehidupan pers Indonesia memasuki era kebebasan yang nyaris tanpa pembatasan dari kebijakan pemerintah. Hal ini sangat dibutuhkan karena kebebasan pers adalah fundamental bagi kehidupan demokrasi serta perlindungan HAM.

Sekalipun bisa diakui bahwa pers yang bebas bisa berdampak baik maupun buruk, tapi tanpa kebebasan pers yang ada hanya celaka seperti yang dikatakan oleh Albert Camus yang menurutnya pula kebebasan adalah kesempatan untuk memilih dan menjadi lebih baik. Kemudian dimanakah keburukan dari pers yang bebas? Menurut Jakob Oetama, bila kebebasan pers yang dimiliki pengelola pers tidak disertai peningkatan kemampuan profesionalisme termasuk didalamnya profesionalisme ethics.

Hanya saja pada perkembangannya kebebasan tersebut menimbulkan pers yang anarkis, kebebasan pers telah menghadirkan secara telanjang segala keruwetan dan kekacauan. Masyarakat menjadi sangat leluasa membaca dan menyaksikan pola tingkah laku para tokoh publik, serta hampir tidak ada lagi yang namanya rahasia atau privasi, sangat marak beredar media yang sarat akan berita dan foto pornografi, media dengan judul-judul yang sensasional, meankutkan bahkan menggemparkan (scare headline).

Selain itu di era reformasi ini semakin kentara bagaimana media menjalin jejaring dengan partai politik, dan pemusatan kepemilikan media di tangan sejumlah konglomerat yang memililki agenda politik tertentu makin memperburuk keadaan sehingga hukum rimba berlaku di dunia pers siapa yang kuat dia yang menang. Konsumen media tentu tidak buta dan tuli ketika disuguhi santapan informasi, pembaca dan pemirsa media dituntut lebih memiliki perspektif yang tajam untuk mengantisifasi agenda atau muatan politik tertentu di balik sebuah pemberitaan media.

Pers sebagai lembaga ke keempat (the fourth Estate) harus dikembangkan dengan bertanggung jawab yang menekankan edukasi kepada masyarakat serta dengan disiplin yang kuat tetap mengutamakan mutu jurnalistik dengan menjadikan kebenaran menjadi acuan yang paling penting dalam pemberitaannya.

Penghormatan kita terhadap pers akan perannya yang sangat besar mengharuskan pers untuk menetapkan standard keberhati-hatian, kebenaran serta kecermatan yang seharusnya menjiwai setiap pemberitaan. Kebebasan pers bukan berarti pula pers bisa seenaknya membuat berita, tendensius dan mencampur adukan kebenaran dengan bumbu kebohongan. Tanggung jawab sosial pers memastiakan semakin besar jangkauan berita suatu institusi pers semakin berhati-hati mereka dalam pemberitaan karena seperti yang dibahas dalam The New Capitalism Manifesto dan Betterment oleh Ekonom Harvard, Umair Hoque, “Kunci keberlangsungan masa depan sebuah korporasi atau insitusi adalah yang menerapkan zero social debt (ketidak adaan hutang sosial)”.

Pers di Indonesia merupakan lembaga yang independen, tidak bekerja di bawah naungan pemerintah namun tetap dalam kontrol badan pemerintahan sehingga apa yang disajikan ialah untuk pemenuhan kebutuhan informasi yang saat ini telah beragam wujudnya, baik cetak, elektronik, maupun internet. Itu berarti pers telah diberikan kebebasan untuk memuat konten apapun dalam pemberitaan, namun harus sejalan dengan norma dan tanggung jawabnya. Hal itu mencerminkan Indonesia adalah negara yang menggunakan sistem pers Tanggung Jawab sosial sebagai acuan melakukan kegiatan jurnalistik.

Dimuat di Surat Kabar Pos Bali

Edisi Kamis, 2 April 2017

Sejarah Kepemimpinan Wanita di Nusantara

Ketika kita berbicara pemimpin, yang ada di benak sebagian besar masyarakat adalah sosok laki-laki yang gagah, berani, bijaksana, tegas dan berwibawa. Namun, ketika kita berbicara mengenai wanita, yang terpikirkan adalah rumah, anak, masak, dan bersolek. Hal seperti ini tertanam dalam mindset masyarakat pada umumnya, padahal peran wanita dalam wilayah publik dari sebelum negara ini berdiri pun sudah tidak diragukan lagi eksistensinya. Hambatan historis adalah salah satu penyebab kurang dikenalnya para wanita hebat yang mewarnai perjalan sejarah nusantara.

Sejak ribuan tahun yang lalu, sejarah Nusantara senyatanya telah mencatat banyak wanita yang sukses menjadi kepala negara dan kepala pemerintahan, wanita yang sangat dihormati, bahkan ditakuti kekuatan dan keperkasaanya. Bukti-bukti sejarah tersebut seharusnya membuka mata sebagian kecil masyarakat dan bangsa yang juga masih meremehkan kemampuan wanita dalam berbagai bidang.

Ketegasan dan Kejujuran Ratu Sima

Jika berbicara soal ketegasan dan kejujuran pemimpin wanita, ada Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga (Keling/Holing). Ia  adalah raja wanita pertama yang memerintah pada 1.300 tahun yang lalu. Berita Dinasti Tang di Cina mengatakan bahwa kerajaan Holing (Kalingga) di Pulau Jawa ini sangat kuat. Orang Ta-Shih pada tahun 674 M mengurungkan niatnya untuk menyerang negara  ini karena keperkasaan negeri Kalingga. Diberitakan pula bahwa di bawah pemerintahan Ratu Sima, Kerajaan Kalingga menjadi pemerintahan Negara yang sangat menjunjung tinggi hukum.

Ratu Sima juga menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, dan mengajarkan rakyatnya senantiasa jujur. Dalam sejarah dikisahkam ada seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kalingga. Raja asing ini melakukan hal itu karena ia mendengar kabar tentang kejujuran rakyat Kalingga dan ratunya yang adil bijaksana dan tegas sehingga raja itupun berniat menguji kebenaran kabar tersebut. Kenyataanya memang benar sejak kantong berisi emas tersebut diletakkan sampai waktu yang sangat lama tidak seorangpun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu, sehingga suatu hari tiga tahun kemudian, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung itu dengan kakinya. Akhirnya Sang Ratu menjatuhkan hukuman potong tangan kanan terhadap pangeran untuk dijadikan contoh kepada rakyatnya bahwa hukum itu harus adil, tegas dan tanpa pandang bulu.

Kebijaksanaan Gayatri Rajapatni

Mengenai kebijaksanaan dan strategi politik, adalah Gayatri Rajapatni yang di dalam kitab Negarakrtagama disebutkan;

Adalah watak Rajapatni Gayatri yang Agung, sehingga mereka menjelma pemimpin besar sedunia, yang tiada tandingannya. Putri, menantu, dan cucunya menjadi raja dan ratu. Dialah yang menjadikan mereka penguasa dan mengawasi semua tindak tanduk mereka

Gayatri adalah putri bungsu dari Krtanegara, Raja Singasari. Setelah serbuan yang dilakukan oleh kerajaan Kediri terhadap kerajaan Singasari dan mengakibatkan orang tuanya meninggal, Gayatri memiliki tekad untuk membangun kembali kerajaan Singasari yang luluh-lantak oleh serangan Jayakatwang, Raja Kediri. Bersama dengan Raden Wijaya, Gayatri menyusun strategi untuk membangun sebuah tatanan pemerintahan di atas sisa kejayaan kerajaan Singasari.

Putri yang digambarkan sebagai sosok Prajnaparamita atau Dewi Kebijaksanaan Tertinggi ini berhasil melahirkan pemimpin, bukan saja yang lahir dari rahimnya, tapi juga dari kebijaksanaan dan akal budi yang terasah. Gayatri adalah sosok di belakang nama besar Raden Wijaya – suaminya, Gadjah Mada – mahapatihnya, Ratu Tribhuwana – puteri sulungnya, dan cucunya – Raja Hayam Wuruk.

Kepemimpinan Wanita dari Aceh

Di Kerajaan Aceh yang merupakan kerajaan Islam, kekuasaan kaum wanita dalam pemerintahan berlangsung selama hampir 60 tahun, kekuasaan pemerintahan tersebut dilaksanakan oleh empat orang wanita ( ratu atau sultanah ) secara berturut-turut, dari tahun 1641 hingga tahun 1699 M, yaitu Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675), Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678), Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah (1678-1688), Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (1688-1699), ditambah lagi pejuang pergerakan kemerdekaan wanita dari Aceh seperti Laksamana Keumalahayati, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Tengku Fakinah, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan.

Prajurit Wanita Nusantara

Inong Balee adalah para janda pahlawan Aceh yang tewas. Mereka dipimpin oleh Keumala Hayati.  Wanita yang menjabat Kepala Barisan Pengawal Istana dan Panglima Protokol Kerajaan Aceh inilah yang menghabisi Cornelis de Houtman ketika berhadapan satu lawan satu di geladaknya sendiri.Sultan Iskandar Muda memiliki 3.000 prajurit perempuan bersenjatakan tulup (sejenis sumpit panjang), tombak panjang, pedang, dan perisai yang menjadi pemimpin pasukan tersebut adalah seorang wanita berpangkat Laksamana. Selain menjadi laksamana, Keumala dipercaya oleh Sultan untuk menjadi diplomat yang bertugas bertemu dengan para duta asing yang memerlukan kerjasama dengan Aceh.

Van Goens dan Valentijn menuliskan keberadaan prajurit estri di Mataram. Rikjlof Van Goens yang mengunjungi Mataram pada medio abad ke-17 memberikan informasi mengenai keberadaan korps prajurit estri. Goens memperkirakan bahwa korps tersebut terdiri atas 150 wanita muda. Tiga puluh di antaranya selalu mengawal sang raja ketika muncul di depan orang banyak; sepuluh dari mereka mengusung perkakas-perkakas sang raja (bejana air minum, sirih, pipa tembakau, payung, kotak minyak wangi, dan pakaian-pakaian yang akan diberikan kepada tamu yang disukai raja); sementara, duapuluh yang lain mengawal sang raja di semua sisi, lengkap dengan senjata tombak dan tulup (sumpit). Goens juga menggambarkan bahwa prajurit estri tidak hanya dilatih memainkan senjata, namun juga menari, menyanyi, dan memainkan alat musik.

Pejuang Wanita di Bali

Dewa Agung Isti Kanya, seorang pemimpin dalam serangan Belanda dalam perang di Goa Lawah dan Puri Kusanegara di Kusamba menuai kemenangan telak dengan berhasil membunuh Jenderal AV Michiels, ia juga memerintahkan pembangunan benteng-benteng pertahanan terus-menerus di sepanjang Goa Lawah Kusamba untuk menghadapi gempuran Belanda. Selain itu beliau juga berperan mengirimkan pasukan Klungkung ke Buleleng guna memperkuat laskar Gusti Ketut Jelantik menghadapi Belanda dalam perang Jagaraga.

Sagung Wah, sosok wanita pemberani yang menjadi sejarah besar bagi lahirnya Kota Tabanan. Ia adalah adik perempuan terkecil dari I Gusti Rai Perang, Raja Tabanan yang gugur di Puri Denpasar tahun 1906. Sagung Wah memimpin perlawanan terhadap Belanda setelah menghimpun kekuatan di Wangaya (Tabanan), yang saat itu rakyatnya dipimpin oleh seorang kebayan. Pertempuran sengit antara Belanda dan pasukan Sagung Wah terjadi di Tuakilang . Meriam dan bedil Belanda tidak bisa meledak karena kesaktian senjata yang diperoleh di Batukaru. Belanda yang bingung menghadapi serangan pasukan gagah berani itu akhirnya mundur.

Anak Agung Mirah Astuti Kompiang merupakan wanita yang ikut membantu perjuangan para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan. Wanita kelahiran 23 Desember 1933 ikut bersama ibunya membantu para pejuang untuk bersembunyi dari kejaran tentara NICA. Selain membantu para pejuang untuk bersembunyi ia juga ikut mengantarkan makanan untuk para pejuang.

Luh Sekar merupakan salah satu pejuang Buleleng yang turut membantu para pemuda Indonesia melawan penjajah. Luh Sekar yang sekarang dikenal dengan nama Jero Nagari merupakan perempuan pertama yang menjadi pejuang di desa asalnya, Panji. Saat Belanda menduduki Buleleng, ia menjabat sebagai Ketua Wanita Republik Indonesia (Warindo). Saat berusia 17 tahun, ia ikut berjuang bersama pemuda desanya untuk menjadi mata-mata para pejuang RI. Luh Sekar mahir menyamar sehingga selalu lolos dari kejaran tentara Belanda.

Selain itu ada Jero Wiladja yang semasa lajang bernama W.G. Sukarti, wanita yang ikut membantu para pejuang dalam perang mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia. Hanya saja ia tidak ikut bertempur seperti kaum laki-laki perannya lebih banyak menjadi informan alias mata-mata pejuang RI yang sengaja menyusupi wilayah jajahan. Ia pun menjalani peran sebagai petugas kesehatan bagi para pemuda pejuang masa itu. Ia ikut di berbagai pertempuran untuk mengusir penjajah, salah satunya adalah turut berjuang mengusir penjajah di Buleleng yang pada saat itu pasukan NICA baru saja mendarat di Buleleng.

Para pemimpin dan pejuang diatas adalah baru sebagian kecil dari tokoh wanita yang mewarnai sejarah nusantara, hal ini membuktikan bahwa kesetaraan gender nyatanya telah ada di Nusantara sebelum abad ke-15, jauh sebelum para Feminisme Eropa menyuarakannya pada abad ke-17. Terinspirasi?

Dimuat dalam Surat Kabar Pos Bali

Edisi 14 April 2015

Inspirasi Hari Raya Nyepi

Masyarakat Bali memiliki adat istiadat dan budaya yang unik dan sarat dengan konsep pelestarian lingkungan hidup yang diwujudkan dalam kehidupan bersama. Bali memandang alam bukan sebagai obyek yang harus diekploitasi untuk kepuasan duniawi semata, melainkan bagian dari kehidupan dan merupakan sumber penghidupan yang harus dijaga dan dipelihara kelestariannya agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud.

Pelaksanaan Nyepi memang sangat relevan dengan kondisi dunia sekarang ini. Saat ini bumi kita sedang menghadapi berbagai masalah seperti global warming, alam yang rusak karena polusi dan eksploitasi besar-besaran, krisis energi dan permasalahan lainnya. Sehingga melalui Perayaan Nyepi, dalam hening kita kembai ke jati diri dan menjaga keseimbangan/keharmonisan hubungan antara kita dengan Tuhan, Alam lingkungan dan sesama yang diwujudkan dalam empat prinsip utama yang dikenal dengan “Catur Brata Penyepian” yang terdiri dari:

  1. Amati Geni pada tataran lingkungan ini berarti tidak menyalakan api atau lampu selama hari Nyepi, sedangkan  dalam tataran di dalam diri manusia api yang dimaksudkan disini adalah sifat-sifat marah dan nafsu
  2. Amati Lelanguan berarti tidak melaksanakan kegiatan yang berfoya-foya atau bersenang-senang, melainkan memusatkan pikiran kepada Tuhan
  3. Amati Lelungan  berarti tidak berpergian, melainkan mawas diri, merenung sejenak tentang segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin, hari ini dan akan datang.
  4. Amati Karya tidak melakukan aktivitas fisik sehari penuh, didukung oleh suasana yang begitu sepi akan dapat mewujudkan ketenangan batin dan kedamaian dalam diri.

Dampak Nyepi bagi Lingkungan

Pada saat dunia diisukan dengan global warming, Nyepi menemukan titik signifikannya. Selama Nyepi, setiap orang Bali tinggal dalam rumah dan menurunkan konsumsinya terkait makanan, listrik, dan energi lainnya. Terdapat jutaan kendaraan bermotor di jalanan Bali, pabrik, pelabuhan, dan bahkan bandar udara juga tak kalah besarnya mengeluarkan karbon dioksida. Namun, saat Nyepi mereka menghentikan aktivitasnya selama 24 jam, dari hasil perhitungan diperoleh bahwa persentase penurunan tingkat konsentrasi Gas Rumah Kaca pada saat Nyepi sebesar 33% dari kondisi normalnya. Selain itu PLN mendata, pada Nyepi tahun 2014 lalu, beban puncak mencapai 780 MW, diasumsikan per tahun beban puncak naik 10 persen, maka saat ini kisaran beban sekitar 850 MM di tahun 2015. Jika Nyepi tahun ini turun 50 persen maka akan mengalami beban pucak sekitar 425 MW, sehingga akan menghemat sekitar 1.000.000 liter bahan bakar. Jika dinominalkan mencapai sekitar Rp 11 miliar. Dasyat signifikannya!

Jadi, konsentrasi gas rumah kaca yang merupakan penyebab perubahan iklim dapat diatasi secara lokal oleh kearifan lokal ini. Masyarakat Bali percaya bahwa Ibu Pertiwi membutuhkan istirahat, dan Nyepi telah memberikan ruang baginya untuk berisitirahat dan memperbaiki sistemnya dari kerusakan lebih jauh.

Dampak Psikologis Nyepi

Lebih jauh lagi, Nyepi memberikan ketenangan yang luar biasa. Terutama bagi mereka yang penat dalam bekerja, dan mereka yang jarang berkumpul dengan keluarga karena berbagai urusan. Saat ini, orang-orang kecanduan terhadap teknologi dan barang elektronik seperti telepon seluler, komputer, laptop, TV, dan gadget lainnya. Terkadang, mereka melupakan hubungan sosial dan juga kondisi di sekelilingnya, dan menjadi individualistik. Selama Nyepi, orang-orang tinggal di rumah atau di komunitasnya serta mengisi waktunya untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Pada malam hari, kondisi rumah yang tanpa listrik dan gelap mampu menguatkan rasa kebersamaan di antara mereka untuk saling menjaga satu sama lain, terutama merawat mereka yang takut pada kegelapan, misalnya anak-anak. Nyepi memang selalu istimewa. Menikmati ketenangan dan intropeksi diri, damai, Di momen inilah, kita bisa merasakan betapa Bali mencapai keheningan tanpa kesibukan apapun.

Toleransi pada saat Nyepi

Toleransi antar umat beragama terjalin baik saat Nyepi di Bali. Umat Muslim, Budhha, Kristiani, Konghucu dan umat lainnya menghormati perayaan Nyepi. Mereka tidak ke luar rumah dan mematuhi aturan catur brata penyepian sehingga pelaksanaan Nyepi dapat berjalan khidmat, aman dan lancar. Sementara Wisatawan mancanegara yang sedang berlibur di Bali, bertepatan dengan umat Hindu melaksanakan tapa brata penyepian hanya diperkenankan melakukan aktivitas di dalam kawasan hotel. Hal ini selaras dengan pengarahan Presiden Joko Widodo saat menghadiri prosesi Tawur Agung Kesanga di pelataran Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta yaitu “mengedepankan semangat toleransi dan kebhinekaan, semangat kebersamaan, semangat gotong royong, semangat persatuan dalam keberagaman kita.”

Inspirasi Nyepi untuk Dunia

  • World Silent Day

Hari Hening Sedunia merupakan sebuah gerakan untuk mengurangi aktifitas yang mengeluarkan sumber daya seperti menyalakan listrik dan mengendarai kendaraan bermotor selama 4 jam yang dimulai pada pukul 10.00 hingga 14.00. World Silent Day dilaksanakan setiap tanggal 21 Maret. Hal ini diharapkan memberikan kontribusi pada pengurangan ancaman pemanasan global. World Silent Day atau hari Hening Sedunia digagas oleh Triple-C, Colaboration for Climate Change, yakni gabungan LSM Bali saat konferensi global warming (UNFCCC), di Bali tahun 2007.

  • Earth Hour

Adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya. Kegiatan ini berupa pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah dan perkantoran selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim. Kegiatan yang dicetuskan WWF dan Leo Burnett ini pertama kali diselenggarakan pada tanggal 31 Maret 2007. Saat itu, 2,2 juta penduduk Sydney berpartisipasi dengan memadamkan semua lampu yang tidak diperlukan, kegiatan ini sekarang di dukung oleh 162 negara di seluruh dunia. Earth hour pada tahun ini akan diselenggarakan pada tanggal 28 Maret 2015 pada pukul 20:30 sampai 21:30.

Nyepi dengan empat prinsip utama dari keheningan memberikan manfaat tidak saja bagi lingkungan hidup tetapi juga untuk hubungan sosial karena mampu mengatasi perubahan iklim, memberikan ruang perbaikan bagi bumi dan membawa manusia kembali pada rasa kemanusiaannya. Kekayaan bali tidak saja berupa alam yang indah, keadaan alam serta masyarakat yang bersahabat, akan tetapi sangat banyak nilai-nilai luhur dalam kearifan lokal yang merupakan kekayaan yang tidak ternilai dimiliki oleh bali yang dapat memberikan inspirasi keseluruh dunia.

Dimuat di Majalah Craddha,

Edisi 64, Mei-Juni 2015